Sejarah Orang Jawa Menurut Pakem Dalang



Dari sekian banyak versi sejarah jawa, versi ini yang jadi menarik buat saya, sejarah yang ditulis dalam pakem pedalangan dan masih bisa ditonton dalam pagelaran pewayangan yang merupakan warisan budaya dari jaman purba. Ditulis oleh sastrawan/pujangga asli jawa. Tapi mungkin pada perjalanannya mengalami berbagai perubahan dan perlu kita teliti ulang.

Jaman purba itu penuh mistis (goib), itu terbukti dari semua kitab suci agama yang ada di muka bumi. Jadi kalau awalnya cerita ini dipenuhi cerit mistis bisa dianggap sah-sah saja. Bahkan kalau kita mau berfikir dari  yang ada di jaman dulu yang penuh mistis (goib) menjadi wajib hukumya sejarah masa purba dilengkapi dan dibumbui dengan hal-hal yang berbau goib.

Tidak akan ketemu, dari semua keyakinan yang ada jelas menginformasikan bahwa jaman dulu penuh mistis, jika kita memandang jaman itu seperti jaman sekarang yang serba logis. semoga dengan membaca ini kita sedikit mendapat cahaya tentang misteri tanah jawa yang kaya dengan peninggalan purbakala penuh misteri. selamat berillusi


Asal-usul Orang Jawa versi Padmosoekotjo ini saya ambil dari Buku “Misteri Syekh Siti Jenar Peran Wali Songo dalam Mengislamkan Tanah Jawa” karya Prof. Hasanu Simon.

Adam, beristeri Siti Hawa, antara lain berputra Nabi Sis. Nabi Sis beristeri Dewi Mulat, antara lain berputra Sayid Anwas dan Sayid Anwar.

Sayid Anwar tidak mengakui agama Nabi Adam dan Nabi Sis, sehingga disuruh pergi. Sayid Anwar ingin menciptakan sariat sendiri. Sayid Anwar pergi ke Timur, akhirnya tiba di tanah Dewani lalu bertemu dengan raja Jin bernama Prabu Nurradi. Sayid Anwar diambil menantu oleh Prabu Nurradi, kemudian diangkat menjadi raja memimpin para jin bergelar Prabu Nurcahya. Setelah Prabu Nurcahya menjadi raja, wilayahnya lalu disebut tanah Jawa.

Menurut archive.kaskus.co.id, Syaikh Anwas menurunkan para nabi selanjutnya dan Syaikh Anwar mempunyai putra ghaib bernama Sang Hyang Wenang. Sang Hyang Wenang berputra Sang hyang Tunggal. Sang Hyang Tunggal mempunyai keturunan dalam bentuk telur. Kulit telurnya berubah menjadi Bathara Antaga (Togog), putih telurnya menjadi Bathara Ismaya (Ki Lurah Semar Bodronoyo) dan kuning telurnya menjadi Bathara Manikmaya (Bathara Guru). Namun Bathara Ismaya-lah yang menurunkan para Pandawa dan seterusnya.

Padahal menurut Padmosoekojo, Bathara Manikmaya-lah yang menurunkan Pandawa dan seterusnya seperti silsilah di bawah ini.

Selanjutnya silsilah Prabu Nurcahya, yang selalu nikah dengan putri jin, adalah sebagai berikut:

Prabu Nurcahya (1)

Menurut nabisys.wordpress.com setelah menjadi raja diantara bangsa jin di pulau Malwadewa, Sayid Anwar menggelarkan dirinya sebagai Sang Hyang Nurcahya (perpaduan cahaya). Selanjutnya Putri Prabu Nurhadi (Nurradi) yang bernama Dewi Nurrini (Dewi Mahamuni) diserahkan dan dijadikan permaisuri Sang Hyang Nurcahya. Sang Hyang Nurcahya mendapatkan keturunan dari Dewi Nurrini (Dewi Mahamuni) berwujud Asrar (rahsa daya hidup, plasma, tan wujud) yang bercahaya sangat terang benderang menyilaukan dan menerangi kegelapan. Asrar (tan wujud) itu kemudian disiram dengan air kehidupan menjadi wujud. Oleh Sang Hyang Nurcahya diberi nama Sang Hyang Nurrasa.

Prabu Nurcahya, berputra Sang Hyang Nurrasa (2), berputra Sang Hyang Wenang (3)

Menurut nabisys.wordpress.com Serat Paramayoga merupakan karya sastra berbahasa Jawa karya pujangga Ranggawarsita yang isinya merupakan perpaduan unsur Islam, Hindu, dan Jawa asli. Tokoh Sang Hyang Wenang misalnya, disebut sebagai leluhur dewa-dewa Mahabharata sekaligus keturunan dari Nabi Adam. Sang Hyang Wenang merupakan putra Sang Hyang Nurrasa, putra Sang Hyang Nurcahya, putra Nabi Sis, putra Nabi Adam. Ia memiliki seorang kakak bernama Sanghyang Darmajaka dan seorang adik bernama Sanghyang Pramanawisesa. Setelah dewasa, Sang Hyang Wenang mewarisi takhta Kahyangan Pulau Dewa dari ayahnya. Kahyangan ini konon sekarang terletak di negara Maladewa, di sebelah barat India. Sang Hyang Wenang dipuja bagaikan Tuhan oleh para penduduk Pulau Dewa yang saat itu kebanyakan dari bangsa jin.

Sang Hyang Wenang beristeri Dewi Saoti, berputra Sang Hyang Tunggal (4) beristeri Dewi Rekothowati, berputra Bathara Manik (Sang Hyang Guru) dan Bathara Maya (Semar).

Bathara Manik (5) berputra sembilan, antara lain Bathara Brahma (6).

Brahma adalah asal muasal orang Jawa. Padahal Brahma adalah cicit dari Syang Hyang Wenang yang merupakan galur dari Sayid Anwar, putra Nabi Sis. Brahma diduga adalah nama plesetan dari Nabi Ibrahim sehingga sebagian penduduk Jawa merupakan keturunan dari Nabi Ibrahim dan Siti Sarah. Pasalnya, dalam mitologi Jawa istri dari Brahma adalah Saraswati.

Bathara Brahma, antara lain berputra Bremani (7), antara lain berputra Manumayasa (8), antara lain berputra Satrukem Bathara Brahma (9), antara lain berputra Sakri (10), antara lain berputra Palasara (11), antara lain berputra Abyasa (12), beristeri Ambalika antara lain berputra Pandu (13)

Menurut Mahabharata, Wicitrawirya bukanlah ayah biologis Pandu. Wicitrawirya wafat tanpa memiliki keturunan. Ambalika, janda Wicitrawirya diserahkan kepada Bagawan Byasa (Abyasa) agar diupacarai sehingga memperoleh anak. Ambalika disuruh oleh Satyawati untuk mengunjungi Byasa ke dalam sebuah kamar sendirian, dan di sana ia akan diberi anugerah. Ia juga disuruh agar terus membuka matanya supaya jangan melahirkan putra yang buta (Dretarastra) seperti yang telah dilakukan Ambalika. Maka dari itu, Ambalika terus membuka matanya namun ia menjadi pucat setelah melihat rupa Sang Bagawan (Byasa) yang luar biasa. Maka dari itu, Pandu (putranya), ayah para Pandawa, terlahir pucat.

Pandu, beristeri Kunti antara lain berputra Harjuna (14)

Harjuna atau Arjuna adalah nama seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia dikenal sebagai sang Pandawa yang menawan parasnya dan lemah lembut budinya. Ia adalah putra Prabu Pandudewanata (Pandu), raja di Hastinapuradengan Dewi Kunti atau Dewi Prita, yaitu putri Prabu Surasena, Raja Wangsa Yadawa di Mandura.

Ia memiliki sepuluh nama: Arjuna, Phālguna, Jishnu, Kirti, Shwetawāhana, Wibhatsu, Wijaya, Pārtha, Sawyashachi (juga disamakan dengan Sabyasachi), dan Dhananjaya.

Arjuna, beristeri Dewi Subadra berputra Abimanyu (15)

Abimanyu menikah dengan Uttara, putri Raja Wirata dan memiliki seorang putera bernama Parikesit, yang lahir setelah ia gugur.

Abimanyu, berputra Parikesit (16), antara lain berputra Prabu Jabaya, menjadi raja Mamenang (Kadiri).

Kemudian saya lanjutkan penelusuran silsilah orang Jawa versi Buku “Misteri Syekh Siti Jenar Peran Wali Songo dalam Mengislamkan Tanah Jawa” dan Wikipedia:

Parikesit (16), beristeri Dewi Satapi alias Dewi Tapen berputra Yudayana (17) dan Dewi Pramasti.

Yudayana, antara lain berputra Gendrayana (18), antara lain berputra Jayabaya (19)

Dikisahkan Jayabaya adalah titisan Wisnu. Negaranya bernama Widarba yang beribu kota di Mamenang. Ayahnya bernama Gendrayana, putra Yudayana, putra Parikesit, putra Abimanyu, putra Arjuna (Harjuna) dari keluarga Pandawa.

Jayabaya, beristeri Dewi Sara antara lain berputra Jayaamijaya (20)

Permaisuri Jayabaya bernama Dewi Sara. Lahir darinya Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jayaamijaya menurunkan raja-raja tanah Jawa, bahkan sampai Majapahit dan Mataram Islam. Sedangkan Pramesti menikah dengan Astradarma raja Yawastina, melahirkan Anglingdarma raja Malawapati.

Sekilas Sang Hyang Brahma
Sang Hyang Brahma
Brahma adalah asal muasal orang Jawa. Padahal Brahma adalah cicit dari Syang Hyang Wenang yang merupakan galur dari Sayid Anwar Putra Nabi Sys a.s. Brahma dicurigai adalah nama plesetan dari Nabi Ibrahim. Penduduk Jawa merupakan keturunan dari Nabi Ibrahim dan Siti Sarah ? Karena dalam mitologi Jawa istri dari Brahma adalah Saraswati ?

Bani Jawi Keturunan Nabi Ibrahim

Di dalam Kitab ‘al-Kamil fi al-Tarikh’ tulisan Ibnu Athir, menyatakan bahwa Bani Jawi (yang di dalamnya termasuk Bangsa Sunda, Jawa, Melayu Sumatera, Bugis… dsb), adalah keturunan Nabi Ibrahim.

Bani Jawi sebagai keturunan Nabi Ibrahim, semakin nyata, ketika baru-baru ini, dari penelitian seorang Profesor Universiti Kebangsaaan Malaysia (UKM), diperoleh data bahwa, di dalam darah DNA Melayu, terdapat 27% Variant Mediterranaen.

Sekilas dari beberapa pernyataan di atas, sepertinya terdapat perbedaan yang sangat mendasar. Akan tetapi, setelah melalui penyelusuran yang lebih mendalam, diperoleh fakta, bahwa Brahma yang terdapat di dalam Metologi Jawa indentik dengan Nabi Ibrahim. Lanjut ke Sumber

Wallohu a’lam…

Lo Masih 0 komentar, dikomentari donk.!

Tinggalkan Komentar. Kalau tidak mau komentar ya, tinggalin duwit ya..hihihi