Rame Ing Gawe, Sepi Ing Pamrih

Kemarin malam kita memperingati 67 tahun IPSI. Sahabat Facebook, ajaran leluhur, ajaran utama yang saya terima untuk menjadi pendekar adalah rame ing gawe, sepi ing pamrih. Berbuatlah banyak pengabdian, jangan menuntut pamrih. Pendekar sejati berbuat untuk orang banyak, berbuat untuk negaranya, tidak untuk dirinya sendiri. Kemudian semakin berisi semakin menunduk, semakin difitnah semakin memaafkan. Semakin dihujat semakin tenang, bukan semakin marah.

Seorang pendekar sejati tak kenal kata dendam. Pendekar sejati harus bisa membela diri, keluarga, lingkungan, dan negara. Bukan mengancam, menindas, atau menyakiti hati orang. Seorang pendekar sejati mengobati yang sakit, bukan menimbulkan kesakitan atau penderitaan.

Saat ini saya melihat bangsa Indonesia tengah terbuai sehingga lupa akan nilai-nilai luhur bangsa. Inilah mengapa pencak silat harus digunakan sebagai pendidikan watak anak-anak kita. Kalau nilai ini kuat, korupsi akan berkurang di Republik Indonesia ini. Bagaimana orang mau membela rakyatnya, lingkungannya, daerahnya kalau dia mencuri dari rakyat, berhianat kepada bangsanya?
Indonesia akan banyak mendapat ujian hingga tahun-tahun mendatang.

Sekarang muncul budaya di zaman kita sehari-hari, dimana kita saling sulit percaya, sulit menerima bahwa yang disampaikan para pemimpin itu benar. Banyak saya temukan sekarang di mana-mana berjenjang saling bohong, saling menipu, saling mengerjai satu sama lain.

Sekarang pilihannya adalah, kalau semua lingkungan kita berbondong-bondong melakukan kebohongan, korupsi, ketidakjujuran, apakah salah kalau kita ingin berada di jalan lurus, di jalan yang benar? Itu tantangannya. Kita adalah pendekar, sejak kecil kita dengan keyakinan, bahwa di ujungnya, yang benar akan diridhoi Allah.


Lo Masih 0 komentar, dikomentari donk.!

Tinggalkan Komentar. Kalau tidak mau komentar ya, tinggalin duwit ya..hihihi