"After Darkness Comes Light" – The Deeper Meaning Behind R.A. Kartini’s Thought
Habis Gelap Terbitlah Terang: RA Kartini
Update 20 February 2026
"After Darkness Comes Light" - The Deeper Meaning Behind R.A. Kartini’s Thought
For generations, Indonesians have known the book “Habis Gelap Terbitlah Terang” (Door Duisternis Tot Licht), a collection of letters written by R.A. Kartini to Mrs. Abendanon in the Netherlands, translated by Armijn Pane.
Many interpret the title as a symbol of women’s emancipation Kartini’s encouragement for Indonesian women to pursue freedom and education. However, the essence of this title goes far beyond gender equality. It also reflects a broader intellectual and spiritual awakening a call for independence of thought, faith, and nationhood.
Kartini’s Letter to Stella (November 6, 1899)
In her letter to Stella Zeehandelaar, Kartini questioned her own understanding of religion:
“Regarding my religion, Islam what should I tell you? Islam forbids discussing its teachings with followers of other religions. I am Muslim because my ancestors were Muslim. But how can I love my religion if I do not understand it?”
She expressed concern that the Qur’an was considered too sacred to be translated, leaving many Muslims reading without understanding. She compared it to memorizing a foreign language without knowing its meaning.
Letter to Mrs. Abendanon (August 15, 1902)
Kartini wrote that she no longer wanted to perform rituals without understanding their purpose. She longed to understand the meaning behind the Qur’an rather than simply reciting it.
Meeting Kyai Sholeh Darat
A turning point came when Kartini attended a religious study session at her uncle’s house in Demak. There she met Kyai Sholeh Darat, who was teaching the interpretation of Surah Al-Fatihah.
Kartini was deeply moved. For the first time, she understood the meaning behind the verses she had recited for years.
The Dialogue
“Kyai, what is the ruling if a learned person hides his knowledge?” Kartini asked.
The Kyai paused. Kartini continued, explaining how deeply she was touched by finally understanding Al-Fatihah.
At that time, the Dutch colonial government prohibited translation of the Qur’an into Javanese, fearing it would inspire resistance. To overcome this, Kyai Sholeh Darat translated the Qur’an into Javanese using Arabic Pegon script a writing system not mastered by the Dutch authorities.
This work became known as Faidhur-Rahman, the first Qur’anic tafsir in the archipelago written in Javanese Arabic script. The translation reached Surah Ibrahim before the Kyai passed away.
He later gifted this manuscript to Kartini upon her marriage to R.M. Joyodiningrat, the Regent of Rembang.
“From Darkness to Light” A Spiritual Meaning
Kartini once said:
“Previously, Al-Fatihah was dark to me. I did not understand it at all. But since this day, it has become radiant and clear, because the Kyai explained it in a language I understand.”
In a later letter dated October 27, 1902, Kartini expressed her critical reflections on European civilization, stating she did not wish her students to become half-European or Westernized Javanese.
On July 21, 1902, she also wrote of her determination to improve the image of Islam, which she believed had been misrepresented.
Finally, on August 1, 1903, she expressed her desire to hold the highest title: “Servant of God.”
Through her spiritual journey, Kartini found profound meaning in Qur’an 2:257:
“Allah guides those who believe from darkness into light.”
Thus, “After Darkness Comes Light” was not merely about women’s emancipation it was also about enlightenment, faith, knowledge, and the awakening of a nation.
Artikel Versi Lama (Bahasa Indonesia)
"Habis
Gelap Terbitlah Terang" RA Kartini
Selama ini kita mengenal buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” (“Door Duisternis Toot Licht”)
yg diterjemahkan oleh Armyn Pane,dari kumpulan surat2 Kartini kpd Ny Abendanon di negeri Belanda.
Banyak yg memaknai bhw judul ini mewakili curhat Kartini yg menyemangati kaum
perempuan
di Indonesia utk meraih kebebasan
Sesungguhnya judul buku tsb tidak hanya dalam konteks emansipasi perempuan,
tetapi memperjuangkan hak bangsa Indonesia untuk m'peroleh kemandirian.
Untuk lebih memahaminya, marilah kita ikuti kronologi sejarah yg sesungguhnya
didukung oleh dialog dalam surat menyurat Kartini berikut:
Dalam suratnya kpd Stella Zihandelaar tgl 6 November 1899 RA Kartini menulis :
"Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa ?
Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dgn umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam krn nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dpt
mencintai agamaku, jika aku tdk mengerti
dan tidak boleh memahaminya ?
Al Qur'an terlalu suci tdk boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tdk ada org yg mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al Qur'an tapi tidak memahami apa yg dibaca.Aku pikir, adalah gila orang diajari membaca tapi tidak diajari makna yg dibaca. Itu sama halnya
engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris tapi tidak memberi artinya.
Aku pikir, tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa asalkan jd org baik hati.
Bukankah begitu Stella ?"
RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dlm surat tgl 15 Agustus 1902 yg dikirim kpd Ny Abendanon
"Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal2 yg tidak tahu apa perlu
dan manfaatnya.
Aku tdk mau lagi baca Al Qur'an, belajar menghafal perumpamaan2 dgn bahasa asing yg tdk aku mengerti
artinya. Jangan2, guruku pun tidak mengerti artinya.
Katakanlah kpdku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja
Aku berdosa Kitab ini terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya"
Hingga kartini bertemu dgn Kyai Sholeh Darat saat mengikuti pengajian di rumah pamannya yg
menjadi Bupati Di Demak. Saat itu Kyai Sholeh Darat mengajarkan tafsir surat Al Fatihah
Rupanya Kartini sgt terpesona dgn uraian Kyai Sholeh Darat (Mbah Sholeh) krn selama ini gelap baginya makna dari ayat2 suci Al Quran. Padahal kalau kita simak surat2 Kartini menggambarkn bhw ia seorang yg intelek
kritis dan rasional
Berikut dialog dgn Kyai Sholeh Darat :
“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu
menyembunyikan ilmunya ?” Kartini membuka dialog
Kyai Sholeh tertegun tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian ?” Kyai Sholeh balik tanya
“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Qur'an Isinya begitu indah menggetarkan sanubariku” ujar Kartini Kyai Sholeh tertegun Sang guru seolah tak punya kata utk menyela
Kartini melanjutkan :
“Bukan buatan rasa syukur hati ini kpd Allah Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Qur'an ke dalam Bahasa
Jawa Bukankah Al Qur'an adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi
manusia ?”
Perlu difahami pada saat itu pemerintah Belanda memang melarang keras para Kyai
menerjemahkan Al Qur'an dlm bahasa jawa krn akan membangkitkan jiwa perlawanan
mereka terhadap penjajah
Bahkan dlm bahasa dan Aksara Jawapun, Belanda akan mendeteksi krn Belanda menguasai kebudayaan Jawa
Akhirnya Mbah Sholeh membuat keputusan utk menerjemahkn Al Qur'an dgn trik
gunakan bahasa bawa dan huruf Arab Pegon (gundul) yg tdk dikuasai Belanda. Terjemahan ini baru sampai Surat Ibrahim karena Mbah Sholeh keburu wafat. Kitab tafsir & terjemahan Qur'an ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman tafsir pertama di Nusantara dlm bahasa Jawa dgn aksara Arab. Kitab ini pula yg dihadiahkannya
kpd RA Kartini pada saat dia menikah dgn RM Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang.
Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan :
“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya.
Saya tak mengerti sedikitpun maknanya.
Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kpd makna tersiratnya
sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yg saya pahami”
Kemudian dalam surat Kartini tgl 27 Oktober 1902 kpd Ny Abendanon :
"Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar
yg terbaik
tiada tara Maafkan kami. Apakah ibu anggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yg indah dalam masyarakat ibu terdapat
banyak hal yg sama skali tidak patut disebut peradaban
Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang
setengah Eropa atau orang Jawa kebarat-baratan"
Dalam suratnya kpd Ny Van Kol tgl 21 Juli 1902 Kartini juga menulis :
"Saya bertekad dan berupaya perbaiki citra Islam, yg selama ini kerap
menjadi sasaran fitnah.
Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam
sebagai agama yg disukai"
Lalu dalam surat ke Ny Abendanon tgl 1 Agustus 1903 Kartini menulis :
"Ingin benar saya gunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah"
Melalui Mbah Sholeh itulah RA Kartini menemukan ayat yg amat berkesan di dalam hatinya yaitu:
"Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya (iman)"
(QS al-Baqarah: 257)
Sumber : "Habis Gelap Terbitlah Terang” oleh RA Kartini dan sumber lainnya.