Abraham Samad Terpilih Menjadi Ketua KPK

JAKARTA: Kemenangan telak Abraham Samad dalam pemilihan Ketua KPK pada Jumat 2 Desember 2011 lalu menimbulkan pertanyaan besar. Dari awal tak diperhitungkan namun belakangan namanya justru menyodok. Adakah yang janggal?

Saat pemilihan Calon Pimpinan KPK Abraham Samad mendulang suara maksimal yakni 55 suara dari 56 yang memiliki hak suara di Komisi Hukum DPR. Perolehan ini sama persis dengan perolehan Bambang Widjojanto yang juga mendapat 55 suara.

Nah, saat pemilihan Ketua KPK, konfigurasi berubah drastis. Di sinilah posisi Abraham Samad melesat bagaikan kilat. Dia mendapat suara cukup dominan yakni 43 suara. Perolehan ini mengalahkan rivalnya yakni Busyro Muqoddas 5 suara, Bambang Widjojanto 4 suara, Zulkarnain 3 suara, dan Adnan Pandu Pradja 1 suara.

Saat pemilihan Ketua KPK inilah, secara faktual, terjadi pembelokan suara dukungan kepada berbagai calon. Yang paling mencolok terjadi pada Bambang Widjojanto saat pemilihan Ketua KPK yakni sebanyak 51 suara 'kabur'.

Anggota Komisi Hukum DPR RI dari Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Martin Hutabarat mengatakan banyaknya dukungan ke Bambang Widjojanto dalam pemilihan Capim KPK tidak sebanding saat pemilihan Ketua KPK. "Saya merasa heran, mengapa bedanya luar biasa antara Abraham Samad dan Bambang Widjojanto.

Padahal waktu pemilihan Capim KPK keduanya imbang," katanya kepada INILAH.COM melalui saluran telepon di Jakarta, Minggu 4 Desember 2011. Martin yang terlibat dalam pemilihan pimpinan KPK di Komisi Hukum DPR RI ini pun mempertanyakan mengapa seluruh fraksi di Komisi Hukum kompak memilih Abraham Samad. "Ini apakah bentuk kepercayaan luar biasa atau sebaliknya?" ujar Martin.

Dia menyebutkan minimnya dukungan parlemen kepada Bambang Widjojanto tidak terlepas dari ketakutan seluruh fraksi terhadap fitur Bambang. "Yang pasti, saya melihat ada ketakutan oleh seluruh fraksi kepada Bambang," cetus Martin. Kepentingan Pemilu 2014, dalam pandangan Martin menjadi pertimbangan politik dalam Pemilihan Capim KPK beberapa waktu lalu.

Dia menyebutkan banyak kader di partai politik memilliki masalah hukum. "Ini kan agar pimpinan KPK mengamankan kader partai yang bermasalah. Yang paling banyak gubernur dan bupati dari partai mana?" tanyanya.

Namun sinyalemen Martin ini dibantah oleh fraksi-fraksi pengusung Abraham Samad yang dikenal dengan kelompok enam fraksi. "Kita buktikan saja apakah pilihan enam fraksi pemilih opsi C nanti memble atau justru mampu membongkar kasus Century dan menyeret pelaku kejahatan itu ke meja hijau," tantang Politikus Partai Golkar Bambang Soesatyo.

Sementara Ketua Komisi Hukum DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat Benny K Harman juga mengatakan biar waktu yang membuktikan peran dan kapasitas Abraham Samad. "Nanti pada waktunya akan tahu. Yang pasti ada invisible power dalam pemilihan Capim KPK ini," tandas Benny seolah pesimistis.


Lo Masih 0 komentar, dikomentari donk.!

Tinggalkan Komentar. Kalau tidak mau komentar ya, tinggalin duwit ya..hihihi